Cukup Pulau Pahawang Saja Yang Menjadi Korban

Pulau Pahawang hingga tahun ini sedang ramai-ramainya menjadi incaran wisatawan dalam dan luar provinsi Lampung, dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Informasi sosial media tidak bisa  terbendung lagi  oleh pergerakan, percepatan dan jangkauannya, hal ini menambah angka penasaran wisatawan untuk melihat dan rasa ingin menunjukkan bukti ke sosial media , bahwa mereka akhirnya bisa sampai juga di Pulau Pahawang Lampung. Terlebih lagi pada saat musim liburan panjang tiba, pengusaha wisata laut di daerah Ketapang, Pesawaran sampai kehabisan armada kapal dan harus mendatang kapal dari daerah lain antara lain berasal dari perkampungan Pulau Pahawang, Pantai Klara, Pantai Sari Ringgung dan bahkan wisatawan ada yang berangkat dari Pantai Mutun dan Pantai Duta Wisata.
Salah satu spot snorkeling untuk foto underwater
Kategori kesehatan terumbu karang di Pulau Pahawang masuk dalam nilai cukup baik yang artinya potensi terumbu karang yang sehat dengan ditandai bermacam bentuk serta warna dari terumbu karang itu sendiri. Kondisi perairan Teluk Lampung yang cukup tenang bersamaan dengan topologi pulau yang cukup terlindungi dari kencangnya angin dan ombak, membuat pengusaha wisata laut menyediakan taman-taman laut buatan sebagai arena wisata para pengunjung. Sejak tahun 2014 Pulau Pahawang sendiri memiliki 7 spot snorkeling yang menjadi rutinitas terpadat bagi para pengunjung dan 1 spot pulau sebagai kunjungan akhir wisatawan yaitu gosongan pasir dari pulau Pahawang Kecil. Kelompok masyarakat pantai bersama-sama membuat taman-taman buatan bertujuan agar terfokusnya lokasi  wisata dan berupaya agar tidak terjadinya pelebaran pengrusakan terumbu karang.
Sejak akhir tahun 2015 kondisi kerusakan terumbu karang makin mengkhawatirkan dan taman-taman laut buatan kini sebagian sudah hancur. Pengusaha wisata laut tidak memberanikan diri untuk menambah spot snorkeling yang baru, dikarenakan akan menambah dampak buruk dari perluasan kerusakan terumbu karang. Bulan Oktober 2015 mulainya pergerakan dari para pemerhati ekosistem bawah laut terutamanya pada kelangsungan terumbu karang yang dalam perjalanannya membentuk sebuah wadah komunitas bernama Lampung Underwater Community (LUC). Dari kecintaan kami dengan ekosistem laut yang  alami di pesisir pantai Teluk Lampung, membawa kami melakukan berbagai gerakan dan aksi untuk mengajak masyarakat pesisir pantai dan wisatawan untuk sekedar memahami pentingnya menjaga ekosistem bawah laut.
Sebagian dari tim LUC
Konservasi terumbu karang bulan November 2015
Konservasi terumbu karang bulan April 2016
Agenda rutin yang sudah berjalan hampir setahun ini di sekitar Pulau Maitem, kami mencoba melakukan transplantasi terumbu karang mengedukasi wisatawan untuk berwisata yang sehat dengan tidak menyentuh apalagi menginjak segala jenis terumbu karang yang masih sehat.  Hanya dengan modal open trip untuk menanam terumbu karang dari para wisatawan, donatur bahkan perusahaan, kami bisa melakukan perawatan terumbu karang yang sudah kami tanam dan menambah/mengganti terumbu karang yang gagal hidup dalam proses penyesuaian karang di lokasi barunya.
Perawatan terumbu karang
Perawatan terumbu karang
Konservasi terumbu karang 28 Agustus 2016
Saya yang juga bagian dari keluarga Lampung Underwater Community selalu berharap agar upaya ini membuahkan hasil yang lebih baik. Proses hidup terumbu karang yang akan tumbuh 1 cm dalam waktu 6 bulan merupakan hasil terbaik kami  dalam upaya mempertahankan jenis terumbu karang yang khas dari pesisir pantai Teluk Lampung.  Bersyukurlah saya bertemu dan bisa bekerjasama dengan tim LUC untuk bersukarela, karena kami semua penghobi dan pecinta laut yang membawa kami dalam satu misi dan visi yang sama hanya sekedar wujud kecintaan kami kepada ekosistem bawah laut Lampung khususnya.
Bagi saya, cukup Pulau Pahawang saja yang menjadi korban dari sebuah usaha/bisnis wisata di pesisir pantai Teluk Lampung ini. Harapan saya yang sangat besar yaitu tidak menciptakan taman laut buatan yang baru, cukup rapihkan saja taman laut yang sudah ada agar tidak terjadi pelebaran perusakan terumbu karang. Cukup Pulau Pahawang saja yang menjadi korban dan jangan menjadikan pulau yang lainnya ikut imbas, terkecuali memang ada pengembangan/perbaikan dari pulau yang tidak terawat dan terjaga.
Tetaplah berwisata laut dan pantai yang baik dan mari kita jaga pesona alam yang Allah SWT sudah titipkan kepada kita sebagai manusia.. (*tri)
www.triephod.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JANGAN DITIRU] Babymoon Yang Tidak Biasa, Blusukan ke SUOH ~ part 01

Sajian Bancakan dan daun pisang yang kini sedang naik ke meja silaturahmi

Makanan kekinian Lampung ala Sate Taichan Mantuuul