6 alasan kenapa Saya harus ikut di Festival Teluk Stabas 2018

sumber : pariwisatapesisirbarat.com


Tabikpun..
Pengalaman Saya menyambangi kota Krui dan beberapa tempat wisata lainnya yang berada di kabupaten Pesisir Barat ini, jika dihitung dengan jari tangan pastinya belum habis. Saya mendatangi kota Krui dengan tujuan khusus liburan baru 2 kali dan itupun sengaja ke Pulau Pisang, dimana pulau itu memiliki suasana pantai yang bersih dan pemandangan alam yang luar biasa bagusnya. Dari mulai pasir putihnya, dermaga usang yang makin bagus jika difoto, batu karang dan deburan ombaknya serta keunikan bangunan rumah tinggal dan kearifan lokal masyarakat khas Pulau Pisang.

Setiap mengunjungi  kota Krui, pantai Tembakak, Tanjung Setia dan Pulau Pisang selalu memberi kesan yang  berbeda-beda , hal ini membuat saya selalu rindu untuk bisa datang kembali kesana. Oh iya, pada tanggal 16 hungga 23 April 2018 nanti, pemerintah kabupaten Pesisir Barat akan menyelenggarakan Festival Teluk Stabas yang ke-5. Semua kegiatan akan berpusat di Plaza Labuhan Jukung dan Desa Pahmungan kecamatan Krui.  Kali ini Saya mau mencoba berusaha untuk bisa ikutan dalam rangkaian kegiatan Festival tersebut. 

Nah, ini dia 6 alasan saya harus ikut ke Festival Teluk Stabas 2018 adalah :

1. Krui itu jauh tapi bikin kangen

Perjalanan berkendaraan selama 5-6 jam dari Bandar Lampung menuju Krui rasanya tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena lokasi Kabupaten Pesisir Barat yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) mengharuskan mengikuti jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Bagi sebagian orang yang melakukan perjalanan jauh akan memposisikan dirinya segera tidur agar perjalanan yang jauh tidak menggangu aktivitas setelah kita sampai di Krui. Sejauh-jauhnya mendatangi daerah di kabupaten seperti Krui, Liwa, Mesuji bahkan Rawajitu sekalipun, bagi Saya menjadi sensai dan cerita perjalanan yang lebih seru walaupun ada selingan tidur beberapa saat.

Beberapa kali Saya ke kota Krui, rasanya tidak akan pernah kapok dan selalu mencari jadwal liburan yang cocok untuk mendatangi kembali serta menikmati pesona wisata alamnya yang kini makin berkembang. Bahkan kini masyarakat yang sadar wisata telah membuka akses jalan untuk menuju tempat-tempat wisata yang baru dan mempertahankan kearifan lokal dalam pelestarian budaya sangat terjaga.

2. Kangen dengan suasana pantai Labuhan Jukung

Terakhir kali Saya mendatangi pantai Labuhan Jukung di tahun 2016, itupun karena ada urusan pekerjaan yang mengharuskan melintasi kawasan pantai yang sangat terkenal di Krui. Labuhan Jukung semakin berkembang dan menata ulang kawasan menjadi lebih rapi dan jadi daya tarik wisatawan lokal ataupun mancanegara untuk datang ke pantai ini.

Pantai Labuhan Jukung terkenal dengan ombaknya yang sedang dan menjadi pantai alternatif wisatawan mancanegara yang sedang berlatih olahraga Surfing, sebelum mereka berselancar di ombak yang sesungguhnya yaitu ombak pantai Tanjung Setia. Pesona Krui menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk bisa mengikuti kejuaraan Surfing tingkat internasional di Pantai Tanjung Setia dan Labuhan Jukung ini. Maka dari itu, Saya tuh kangen sekali dengan suasana pantai yang berkelas mendunia (terlihat wara wiri turisnya).

3. Parade Budaya khas daerah biasanya lebih alami

Semua bentuk promosi budaya dengan menampilkan bentuk dan rupa ciri khas daerah masing-masing, terlihat indah jika disajikan dalam bentuk parade budaya. Apalagi jika parade budaya yang setingkat Kabupaten, sajian khas kedaerahannya sangat melekat berbeda dengan penampilan parade budaya daerah yang ditampilkan di Kota/Provinsi. Banyak ornamen tambahan yang muncul hanya karena untuk terlihat lebih berwarna dan menjadi nilai seni yang lebih terangkat lagi.

Pada Festival Teluk Stabas nanti, parade budaya akan menampilkan parade Bebay Ngantak Uyan Sasuduk yaitu iringan berjalan para ibu-ibu yang berpakaian kebaya, mengenakan sinjang (sarung) tapis dan selendang penutup kepala seraya memikul bakul anyaman bambu berisikan beras, gula, sayur mayur dan lainnya.

4. Ada pencatatan Rekor MURI baru

Memperkenalkan budaya Pesisir Barat ke dunia luar memang tujuan diadakannya Festival Teluk Stabas 2018, tetapi ada satu nilai / target panitia pelaksanaan kegiatan akan diadakannya Rekor MURI terhadap pelaksanaan Bebay Ngantak Uyan Sasuduk dan Bebay Nyelimpok Gelamay . Wah, pasti akan ada ribuan peserta yang hadir dan juga minat masyarakat Krui pasti ramai sekali untuk mensukseskan Festival tahunan ini.

5. Penasaran dengan Lomba Nyulam Tapis

Saya baru tahu kalo nyulam tapis bisa diperlombakan, karena setahu saya menyulam tapis itu butuh waktu yang lama untuk hasil yang lebih baik. Apalagi Tapis khas Lampung memiliki tingkat kedetilan yang sangat tinggi, terutama dalam mempersiapkan benang emas yang khusus untuk pembuatan kain tapis. Satu kain sulam tapis dengan ukuran sedang (ukuran sarung) membutuhkan waktu pengerjaan minimal 2 bulan atau paling cepat 1,5 bulan hingga kain tapis terlihat bagus.  Nah, kira-kira penilaian perlombaan untuk menyulam Tapis ini seperti apa ya? Penasaran kan.   

6. Mau lihat Lomba Ngunduh Damar

Damar merupakan pohon andalan warga krui sejak ratusan tahun silam, karena getahnya merupakan bahan baku produk pewarna seperti vernis, cat, tinta, dempul, kosmetik dan lain-lain. Pohon damar yang berasal dari Krui ini telah terkenal kualitasnya yang bagus di mancanegara , sehingga masyarakat Desa Pahmungan tetap menjaga dan ikut melestarikan pohon yang telah berusia ratusan tahun. Salah satu sangsi adat jika masyarakat tahu ada pelaku penebangan adalah dengan membayar denda adat berupa keharusan menanam sejumlah pohon damar. Dan seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan juga diharuskan menanam pohon damar sebelum acara pernikahan. Adat ini tetap dilaksanakan bertujuan akan generasi yang aka datang tetap melanjutkan upaya pelestarian hutan dan terutama pohon damar sebagai sumber penghasilan masyarakat Krui.   

Melestarikan budaya dan lingkungan untuk keberlangsungan hidup serta memperat kekeluargaan antar masyarakat sudah menjadi tanggungjawab kita bersama. Festival Teluk Stabas 2018 mendatang akan mengadakan serangkaian acara yaitu : Parade Budaya, Lomba Nyelimpok Gelamay, lomba Nyulam Tapis, Lomba Ngunduh Damar, Lomba Tari Adat Lampung, Lomba Tari Kreasi, Lomba Mawalan, Lomba Ngukokh Kelapa, Lomba Burung Berkicau, Lomba Lagu Lampung, Lomba Kuliner, dan Lomba Video Wisata. Untuk mendapatkan informasi lengkap tentang pelaksanaan Festival teluk Stabas ini, kita bisa lihat di @genpi_lampung dan @kruikruitourism .

Sumber : kelilinglampung.net


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JANGAN DITIRU] Babymoon Yang Tidak Biasa, Blusukan ke SUOH ~ part 01

Sajian Bancakan dan daun pisang yang kini sedang naik ke meja silaturahmi

Makanan kekinian Lampung ala Sate Taichan Mantuuul