[JANGAN DITIRU] Babymoon Yang Tidak Biasa, Blusukan ke SUOH ~ part 01


Apa itu babymoon?

Babymoon adalah perjalanan hidup janin yang memasuki tri semester kedua kehamilan (usia 18-24 minggu), dimana sang calon bayi / ibu hamil merasakan ingin melakukan penyegaran atau suasana baru bahkan perjalanan liburan untuk mengusir kebosanan. Mirip seperti honeymoon, tetapi ini dilakukan sebelum ibu hamil memasuki usia kandungan 7 bulan (tri semester kedua). Tetapi dengan catatan yang diberi benang merahnya, antara lain :

  1. Kondisi / posisi janin dalam keadaan normal
  2. Ibu hamil tidak capek melakukan perjalanan
  3. Tidak terjadi kontak fisik yang mengganggu janin
  4. Harus seizin dokter

Memasuki kehamilan minggu ke-20, Saya dan istri sebenarnya tidak terlalu memaksa untuk melakukan perjalanan keluar kota apalagi perjalanannya terlalu jauh dan membuat tidak nyaman Ibu hamil. 2 minggu sebelum keberangkatan , kami sudah konsultasikan dengan dokter kandungan yang selalu rutin memeriksa perkembangan dedek bayi di dalam kandungan. Dengan bantuan alat USG  kami ingin melihat perkembangannya di dalam sana dan hasilnya bayi tumbuh normal, lincah bergerak keatas dan bawah, berat bayi normal sesuai dengan usia kehamilan dan detak jantung yang terdengar dengan tempo yang sesuai.

“apa ibunya sudah merasakan dedeknya bergerak-gerak?” tanya bu Dokter
“belum Dok. Saya belum merasakan gerakannya” jawab Istriku
“oh.. mungkin si Ibu lagi aktif, jadi belum merasakan gerak si adek”
“coba rileksasi lebih tenang supaya bisa merasakan geraknya ya..” saran Dokter kepada kami.

Kami berdua merupakan pengurus sebuah komunitas pendidikan dan peduli kesehatan anak-anak, diamana pada tanggal 30 Maret – 1 April 2018 akan mengadakan kegiatan Ruang Jingga Goes To Lambar. Jarak yang akan ditempuh untuk kegiatan ini sejauh 195 km dari kota asal kami yaitu Bandar Lampung dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kesepakatan yang tidak tertulis adalah jika di detik-detik terakhir atau H-2 terjadi perubahan kondisi sang Ibu atau kurang nyamannya perjalanan yang akan dijalani, kami berdua mundur dari kegiatan #1000tumblers4lpg yang sering kami adakan setiap Kabupaten di Provinsi Lampung. Kecamatan Sekincau dan Suoh merupakan destinasi kegiatan komunitas Ruang Jingga di semester genap ini.

Sebagai catatan dan pertimbangan kami untuk bisa ikut rombongan ini adalah:

  1. Jalan yang akan ditempuh masih ketemu jalan aspal
  2. Sekincau memliki suhu udara yang sangat dingin daripada daerah lain
  3. Akses jalan dari Sekincau menuju Suoh kondisinya sudah membaik, yang dahulunya jalan tanah merah kini tertutup beton
  4. Suhu udara di Suoh normal
  5. Perjalanan dari Suoh ke arah Wonosobo Tanggamus ada 2 pilihan (jalan tanah dan terjal atau jalan berbatu sebagian jalan beton)
  6. Kondisi jalan dari Wonosobo ke Bandar Lampung adalah aspal dan cenderung lebih singkat daripada kembali pulang melewati jalur keberangkatan

Komunitas Double Cabin Indonesia Chapter Lampung pada detik-detik terakhir poster gelaran Ruang Jingga goes To Lambar launching, meng-iya-kan untuk ikut berkolaborasi dan ingin mengulangi sensasi seru pada saat jalan menuju Suoh masih berupa jalan tanah merah da penuh kubangan / kolam di tengah jalan. Sebuah keputusan dan penuh keberkahan bagi Ruang Jingga bisa berkolaborasi kembali dengan komunitas Dcab.id_Lampung , karena kendaraan yang digunakan akan sesuai dengan kondisi jalan yang akan dihadapi.

“Jadi kita berangkat lewat jalur atas Kotabumi, terus pulangnya lewat jalur bawah Wonosobo ya?” tanya om Amril (ketua Chapter dcab.id Lampung)
“iya om, karena gelaran kita ada di Sekincau dan kita sempatkan mampir di kerajaan Skala Brak” ujar Saya
“tapi Saya rikues nih om, nanti waktu pulang dari Suoh, cari jalan yang geolnya sedikit aja. Soalnya bawa bumil” timpah Saya
“waduh, sudah berapa bulan bumil?” tanya om Andri (pengurus Dcab.id)
“pas berangkat masuk minggu ke-20 om” jawab Saya
“oh.. sudah kuat, sudah lewat tri semester pertama tuh” timpah Om Amril dan Andri bersamaan

Kami merasakan keyakinan tinggi, karena kedua orang tersebut telah memiliki anak dan pernah melakukan perjalanan dengan kondisi yang kira-kira akan mirip seperti perjalanan kita nanti. Kendaraan jenis Double Cabin di desain dengan kekuatan roda 4x4 (Four whell drive) dan memilii kaki roda yang tinggi sehingga guncangan penumpang tidak terlalu keras atau bisa mengkibatkan perpindahan posisi duduk penumpang (bercandaan teman mba Novi, Habi dan Dessy).

It’s showtime


Relawan Ruang Jingga dan Tim Double Cabin Chapter Lampung


Hari keberangkatan pun tiba. Saya dan Istri menjadi penumpang di mobil om Amril, karena mobil yang ditumpangi ini memiliki kaki roda yang lebih empuk daripada 2 kendaraan lainnya. Perjalanan menuju ke Sekincau hingga gelaran #1000tumblers4lpg Ruang Jingga feat Dcab.id Lampung selama 2 hari itu akhirnya terselesaikan juga. Dan akhirnya babak selanjutnya dimulai.

Sabtu sore itu rombongan mulai berjalan ditemani hujan gerimis, meninggalkan Sekincau dan memasuki jalur menuju Suoh yang masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Lampung Barat. Kini, jalan menuju kecamatan Suoh relatif bagus dan nyaman, karena sebagian besar jalan terbuat dari beton dan sebagian kecil lainnya masih dalam proses penyelesaian. Sepertinya cerita jalan ke Suoh jelek sudah bisa ditempis dengan elegan ditambah lagi makin banyak beredarnya foto-foto keren ala Suoh. Perjalanan berangkat termasuk sukses dengan aman dan nyaman, kondisi bumil baik-baik saja tanpa keluhan yang sangat berarti. Suasana malam yang gelap gulita, rombongan tiba di Suoh jam 19.30 wib di sekitar Danau Lebar yaitu salah satu tempat wisata yang bisa menikmati kemping di atas bukit dan jika beruntung bisa mengabadikan sunrise terbaik.

Malam ini kami memutuskan untuk bermalam di sekitar Danau Lebar, Saya dan Istri mendirikan tenda disamping warung yang berjualan hingga malam, beberapa orang tidur di bale-bale depan dan belakang warung dan yang lainnya mendirikan tenda di atas bukit yang diatas Danau Lebar. Banyak orang bercerita kalau menginap di sekitar Suoh bakal banyak nyamuk jenis agas (bikin gatal dan membekas dikulit), suhu udara di malam haari tidak terlalu dingin dan suhu di siang hari malam terasa panas ditambah lagi aliran air yang keluar dari sekitar kawah. Karena lelah dan letih seharian kegiatan gelaran Ruang Jingga dan lelah selama perjalanan, kami bergegas istirahat lebih awal ada niatan menghabiskan malam itu dengan begadang.

Bersambung ke sini ya

Suasana perbukitan diatas Danau Lebar Suoh

Komentar

  1. MasyaAllah.. emang yaa Kakak-kakak ini adalah extraordinary couple xixi. Seru banget babymoon nya! Sehat-sehat terus ya untuk Bumil dan dedeknya :)

    BalasHapus
  2. Akkkkkk kece bangettt. duh jadi pengen hamil terusan babymoon jugakkkk, wkwkwk

    Hebat mba Mamik kuatt. Keren banget.

    BalasHapus
  3. Inget jaman hamil pecicilan kek gini juga nih. Bolak-balik Lampung-Jambi, hahaha. Sehat-sehat ya mbak bumil. Semoga dilancarkan sampai proses lahiran. Puas-puasin momen berdua sebelum momen bertiga itu datang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami berharap punya kenangan baru tanpa merubah kebiasaan kami berdua. Apalgi nanti sudah bertiga, semoga Allah melimpahkan rejeki jalan-jalan ke kita semua ya.. 😇

      Hapus
  4. Kayalnya aku tahu nih komunitas ruang jingga.. Btw, nice trip mas tri.. Mb nya strong, semoga lancar sampai lahiran, sehat ibu dan debaynya. Oh y mas, diawal kalimat itu 18-24 bulan? Lama amat yak.. Wkkwkwk

    BalasHapus
  5. InyaAllah disegerakan Nov,.. Aamiin.. 😇

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajian Bancakan dan daun pisang yang kini sedang naik ke meja silaturahmi

Makanan kekinian Lampung ala Sate Taichan Mantuuul